Wae Rebo adalah desa adat terpencil masyarakat Manggarai di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang dikelilingi pegunungan dan hutan lebat Todo. Ciri utamanya adalah tujuh rumah kerucut Mbaru Niang bertingkat lima yang tersusun melingkar mengelilingi altar batu compang, dengan atap lontar menjuntai hampir menyentuh tanah. Pada 27 Agustus 2012 di Bangkok, pembangunan kembali Mbaru Niang secara gotong royong menerima Top Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards 2012.
Data lokasi ini diriset dari sumber resmi dan tepercaya (lihat Sumber Riset pada kartu Data Umum). Bidang yang belum terverifikasi sengaja kami kosongkan — dan rute publik di halaman ini hanya berasal dari kontribusi komunitas yang lolos tinjauan moderator.
| Nama resmi | Wae Rebo (Waerebo) |
| Jenis | Wisata Alam |
| Elevasi | 1.200 M dpl |
| Provinsi | Nusa Tenggara Timur |
| Kabupaten | Manggarai |
| Wilayah | Bali & Nusa Tenggara |
| Koordinat | -8.77°, 120.28° (perkiraan) |
Sumber data: Indonesia Travel (indonesia.travel) & Jurnal SOLMA Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, diakses 2026
Sumber riset: id.wikipedia.org · en.wikipedia.org · indonesia.travel · en.wikipedia.org · antarafoto.com · journals.itb.ac.id
| Kesulitan | Sedang |
| Titik awal | Desa Denge, titik terakhir yang dapat dicapai kendaraan dan titik mulai trek berjalan kaki ke Wae Rebo |
| Durasi | Trek naik sekitar 2,5–3 jam melalui hutan dari Denge pada jalur yang diperbarui (data 2022); kunjungan lazim berupa menginap 1 malam di desa, antara lain dalam paket 2 hari 1 malam |
| Jarak tempuh | Sekitar 4,5 km dari Desa Denge (jalur sejak 2022 menurut Wikipedia Inggris yang mengutip Suhandi dkk. 2022) |
| Musim terbaik | Musim kemarau, sekitar April–Oktober, saat jalur trekking cenderung lebih kering; Indonesia Travel juga mencatat udara relatif dingin terutama pada musim kemarau |
| Tiket & izin masuk | Kunjungan dikelola lembaga masyarakat setempat (Lembaga Pelestarian Budaya Waerebo/LPBW, sebelumnya Lembaga Pariwisata Waerebo). Setiba di desa, setiap pengunjung wajib mengikuti ritual penyambutan Waelu'u (Wailu'u) oleh tetua adat selama sekitar 5–7 menit; sebelum ritual ini pengunjung tidak boleh beraktivitas atau berfoto di desa, setelahnya barulah diizinkan berkunjung ke rumah warga dan berfoto. |
Jalur berikut terverifikasi dari sumber resmi dan tepercaya. Selalu cek status keamanan terbaru sebelum berangkat — jalur dapat ditutup sewaktu-waktu.
Rute di halaman ini adalah jejak nyata kontribusi pendaki yang lolos tinjauan moderator — bukan garis karangan. Buka pratinjau 3D-nya, atau unduh GPX-nya setelah masuk.
Jadilah yang pertama membagikan rute Wae Rebo — rute yang lolos moderasi tampil di sini, lengkap dengan profil elevasi dan pratinjau 3D.
Lihat Rute KomunitasDi aplikasi JEJAKRUTE, unduh data medan Wae Rebo sebelum berangkat — sesudah itu navigasi berjalan tanpa sinyal.
Satu aplikasi untuk semua gunung di katalog — gratis, tanpa iklan.
Jangan melakukan aktivitas apa pun, termasuk berfoto, sebelum ritual penyambutan Waelu'u oleh tetua adat selesai; ritual sekitar 5–7 menit ini adalah penerimaan resmi sebagai tamu oleh masyarakat dan leluhur.
Menurut Indonesia Travel, di desa tidak ada jangkauan seluler dan listrik hanya tersedia sekitar pukul 18.00–22.00; bawa jaket karena udara relatif dingin, terutama pada musim kemarau.
Di pos/jalur sebelum masuk desa, bunyikan pentungan (belahan bambu) yang tergantung di sisi jalur beberapa kali lalu tunggu bunyi balasan dari desa sebagai tanda kedatangan diterima, sebelum turun menemui tetua desa.